OSS: Open Source Software
Rangkuman Thread
Genetik@
Juli 2002 oleh Abdul Latip
URL
http://people.WebIndonesia.com/dullatip/oss.html
Pendahuluan
Tulisan ini merupakan pendapat pribadi plus tanggapan / masukan dari
berbagai pihak terutama para pemerhati
Genetik@
seperti bapak-bapak (dan ibu-ibu?):
Adi Nugroho --
Adhytia W Soendjasmono --
Asik Aja 2001 --
Chairil Anwar --
Defriyon "d" --
Edisun --
Fade2blac --
Foryanto J. Wiguna --
Herjun J Purba --
Irwin Day --
Judhi Prasetyo --
Onno W. Purbo --
Steven Haryanto -- Tunggul
Orion --
Yanuar Rizky --
Yohanes Sumaryo --
yang telah memberikan tanggapannya
pada list tersebut. Juga sekali lagi, mohon maaf kiranya
jika ada kekeliruan, juga kesalahan menulis nama dan gelar, serta
mudah-mudahan tidak ada yang merasa terpipisi.
Tentu saja,
$Revision: 0.1 $
ini masih jauh dari sempurna, serta mudah-mudahan akan disambung dengan
versi/ revisi berikutnya. Saya
siap menerima kritikan dan hujatan, sebab saya percaya bahwa
sesuatu tulisan/ opini/ rangkuman yang "ADA" bisa direvisi;
sedangkan yang "TIDAK ADA" tidak bisa di-apa-apa-in,
kecuali diangan-angan-kan?
Silakan mengirimkan tanggapan anda ke:
dullatip <@T> angin.com
Proposisi
-
Apakah ada yang berkeberatan dengan proposisi bahwa pamor
proyek GNU dewasa ini telah redup?
Tolok ukur keredupan tersebut ialah:
- Tidak banyak yang menyadari bahwa Free Software bukan
perihal gratisan, namun perihal kebebasan (freedom).
Sangat menyedihkan, bahwa masih sering terdengar dan terbaca; para
"pakar" dan media mengasosiasikan "Free Software" dengan "Gratis"
dan bukannya "Kebebasan" (Freedom) :-(. Lebih sedih lagi, kalau
mendengar istilah campur aduk seperti "GNU/ Open Source".
- Tidak banyak yang menyadari akan kontribusi nyata proyek GNU
GCC, BASH, GPL, GFDL, dan seterusnya... Kontribusi ini telah
dianggap sebagai taken for granted.
- Tidak banyak yang mengenal tokoh GNU yaitu Richard Stallman.
Perlu **DIBEDAKAN** antara gerakan proyek
GNU
yang dimotori oleh
Richard Stallman
dan gerakan
Open Source
yang dimotori oleh
Eric Raymond.
- Apakah ada yang berkeberatan dengan proposisi bahwa pamor
OpenSource dewasa ini, terang benderang?
Gerakan-gerakan seperti
Va Software,
SourceForge,
RedHat, et. al. lebih
cenderung menggunakan istilah "Open Source" dari pada
"Free Software".
Entah mengapa, konotasi "gratisan" melekat pada "Open
Source" tersebut.
Problem ini bukan merupakan problem spesifik Indonesia.
- Apakah ada yang berkeberatan dengan proposisi bahwa sistem
OpenSource akan memiliki margin yang lebih rendah dengan
sistem lisensi, karena levelnya memang berbeda?
Bagaimana cara mengkaji OpenSource dari segi ekonominya,
tanpa memasukan parameter yang sulit diukur seperti: "moral",
"kebahagiaan", "bermanfaat"?
Umpama menggunakan parameter "margin" karena lebih mudah untuk diukur.
Lalu, dibandingkan margin antara sistem yang berbasis
"otot/otak/jasa" dan sistem yang berbasis "pemilik/proprietary".
Diperkirakan (guesstimate), sistem produksi berbasis "otot/otak/jasa" hanya
dapat menghasilkan margin optimal sekitar 20-30%. Angka tersebut
mungkin tidak terlalu akurat, namun saya kira kisarannya
sedemikian. Sedangkan sistem yang berbasis "pemilik" dapat
dikenakan margin sesukanya, biasanya lebih dari 50%. Belum lagi,
sistem yang berbasis "pasar", dapat memiliki margin berpuluh
lipat: kita beli saham hari ini seharga Rp. 100.-; bisa saja
kemudian kita lepas dengan harga Rp. 2000.- (20 kali lipat!).
Tentunya, juga tidak tertutup kemungkinan untuk merugi berpuluh
kali lipat!
-
Apakah ada yang berkeberatan dengan proposisi bahwa seharusnya
kita tidak melakukan pelanggaran lisensi perangkat lunak,
baik yang open, mau pun yang proprietary. Kalau pun "terpaksa",
seharusnya kita memiliki target/ rencana untuk sedikit demi
sedikit mengurangi pelanggaran lisensi tersebut?
OpenSource bukan gratisan. Ada "harga" yang harus
dibayar oleh para pengguna perangkat lunak "OpenSource" tersebut.
Sama halnya kalau kita menghadiri sebuah pesta perkawinan; apakah
kerena kita berasumsi untuk mendapatkan "makanan gratis"? Saya
sangat prihatin dengan para "pejuang" OpenSource, yaitu
memanfaatkan perangkat lunak Open Source, tapi tidak mau
mengopen-source-kan produknya sendiri. Saya lebih prihatin lagi,
bahwa masih banyak yang melakukan "pelanggaran" atas lisensi "GPL".
-
Apakah ada yang berkeberatan dengan proposisi yang meragukan
masa depan Open Source yang cerah
(Terlepas dari definisi masa depan itu sendiri)?
Justru itu, diadakan diskusi, untuk saling bertukar
pikiran perihal Open Source tersebut. Apakah masih zamannya, untuk
kita percaya begitu saja; tanpa menggunakan, atau mencoba
menggunakan beberapa parameter sebagai tolok ukur? Atau memang
harus terjun/ coba dulu, baru diskusi?
URL
HOME
|